Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses


 “Langkah-Langkah dalam Menjadi Istri Shalihah dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

  • Mengenal Ajaran Islam

  1. Mengenal Allah dan Tauhid. Dengan mengenal Allah dan Tauhid, kita mampu membedakan mana yang haqq dan yang bathil, amalan apa saja yang dapat mendekatkan kita pada Allah, mentaati perintah dan menjauhi segala larangan-Nya sebab tujuan diciptakan nya jinn dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Mengenal nama dan sifat-sifat Allah serta dzat Allaah secara khusus, bahwa hanya Dia lah yang menghidupkan dan mematikan, memberi rezeki, Raja segala Raja dan lain sebagainya. Mengimani rukun iman dari beriman kepada Allah hingga kepada takdir baik dan buruk. Agar hidup kita senantiasa selalu bertumpu hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Allah berfirman:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu (Adz Dzariyat : 56)

    Al-’Imad Ibnu Katsir mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.
    Beliau (Ibnu Katsir) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat : 56), “Makna ayat tersebut; sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”

  2. Konsep Ibadah yang Benar. Setelah mengetahui dan mengenal Allah dan Tauhid, kita harus belajar tentang konsep ibadah yang benar, yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), bukan menambah hal-hal baru yang dapat mengakibatkan ibadah kita tertolak.
    مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak berdasarkan urusan kami, maka amalan itu tertolak” (lihat hadits no 5 dalam Al Arba’in An Nawawiyyah).

  3. Konsep Pernikahan dalam Islam. Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo). Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar. Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.
  • Banyak Berdoa Kepada Allah

Yang namanya mengarungi bahtera rumah tangga, tentu tak selamanya akan berjalan mulus, ibarat bahtera yang nahkodanya adalah suami dan penumpangnya adalah keluarga, kadangkala harus menemui badai, angin yang kencang atau bahkan menabrak karam.
Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah. Ketika impian tak seindah kenyataan, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.
Kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul, yang mungkin bisa diistilahkan sebagai bumbu rumah tangga, bisa berpangkal dari banyak hal. Mungkin di antaranya sebagai berikut:

  1. Perbedaan karakter dasar.
  2. Perbedaan tingkat intelejensi, kadar intelektualitas dan wawasan berpikir.
  3. Perbedaan usia yang terlalu menyolok.
  4. Perbedaan latar belakang pengalaman, satus sosial dan lingkungan hidup.
  5. Perbedaan pemahaman dan prinsip hidup dan beragama.
  6. Kurangnya pengalaman interaksi sosial.
  7. Kesulitan ekonomi.
  8. Cacat dan kekurangan pisik ataupun mental yang baru diketahui belakangan.

Badai  rumah tangga seringkali tampil dalam wujud percekcokan antara suami istri. Kalau dibilang sebagai bumbu, mungkin lebih layak disebut bumbu yang terlalu pedas. Karena percekcokan antara dua insan yang seharusnya bersatu, yang seharusnya tenggelam dalam suasana tentram, penuh dengan kasih sayang, jelas berpengaruh amat besar terhadap kebahagiaan masing-masing pihak, bahkan berpengaruh pada penyelesaian tugas masing-masing dalam rumah tangga.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-’Ankabut: 2)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

 “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (Qs. Ali Imran: 142)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amatlah dekat.” (Qs. Al-Baqarah: 214)

Pertentangan yang kadang terjadi dalam kehidupan suami istri bukan sesuatu yang mesti menimbulkan rasa gentar dan takut. Bahkan jika dalam kehidupan suami istri tidak diwarnai pertentangan dan perselisihan, justru perlu dikaji dan dipelajari. Bagaimanapun juga pertentangan ini merupakan sesuatu yang alami dan pasti terjadi. Sebab kehidupan suami istri terdiri dari dua jenis manusia. Sementara setiap anak keturunan Adam tentu pernah melakukan kesalahan. Sebab kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.
Boleh jadi suami melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak istrinya atau dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai istri. Adakalanya istri juga melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak suami atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai suami. Dari sini kemudian muncul pertentangan yang memanas. Ini merupakan kejadian yang biasa muncul di setiap rumahtangga. Bahkan yang seperti ini juga terjadi dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seorang istri yang berakal dan pandai harus menyelaraskan aturan pada awal kehidupannya bersama sang suami sehingga masing-masing bisa saling mengenali lebih jauh sehingga apa yang disepakati keduanya bisa dilaksanakan dan apa yang tidak disukai bisa dihindari. Para suami dan istri dari kalangan salaf yang shalih pasti berbuat seperti itu pada awal kehidupan rumah tangga mereka, sehingga kita jarang mendengar kisah tentang perselisihan di antara mereka seperti yang seringkali kita dengar pada masa sekarang.
Wanita yang berakal tentu menghendaki uluran maaf dari suaminya atas kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu dia pun harus sudi memaafkan kesalahan-kesalahan suaminya. Sebab manusia tidak diciptakan dalam keadan terpelihara dari kesalahan. Seperti yang kita ketahui bersama, terlalau banyak mencela bisa melahirkan perselisihan. Kadang-kadang wanita suka mencela suaminya karena suatu perkara yang dalam pandangannya merupakan perkara besar. Boleh jadi celaannya termasuk celaan yang keras, sehingga justru menyeretnya kepada kesalahan yang jauh lebih besar dari hanya sekedar celaan terhadap suami. Akhirnya dari sini muncul suatu masalah yang besar, karena suami merasa tidak lagi membutuhkan dirinya, hanya karena berangkat dari perkara yang sebenarnya tidak seberapa berarti. Tentunya seorang suami mempunyai sisi-sisi yang terpuji dan juga mempunyai beberapa keburukan. Orang yang berhati-hati masih bisa tergelincir dan orang pandai pun masih mempunyai celah.
Maka dari itu seorang istri tidak boleh marah jika lidah suaminya terpeleset tatkala marah. Tetapi dia harus lapang dada dan tenggang rasa, menghadapi kesalahan dengan kebaikan. Jika istri bisa bersikap seperti ini, justru suaminya bisa menyadari sendiri kesalahannya dan mengetahui bahwa ternyata adalah wanita yang pandai dan lapang dada. Dengan begitu cinta suami kepada dirinya semakin bertambah dan ada saling pengertian di antara mereka.
Basyar bin Burd berkata di dalam syairnya tentang pergaulan,

Jika segala perkara engkau cela
tiada teman yang tiada engkau cela
hiduplah sendirian atau jalin hubungan dengan saudara
dia bisa berbuat dosa dan bisa juga menjauhinya
jika engkau tiada pernah meminum yang ternoda debu
engkau bisa kehausan saat oranglain terbiasa minuman itu
siapa yang engkau ridhai semua perangainya
dia terlalu mulia untuk kau cari celanya.

Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, seorang istri harus bisa mengakui kelebihan suami, tidak mengingkari kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadanya, sehingga dia tidak termasuk golongan wanita yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka, seraya bersabda:
((…ورأيت النار فلم أر منظرا كاليوم قط ورأيت أكثر أهلها النساء قالوا: بم يا رسول الله ؟ قال بكفرهن قيل أيكفرن بالله ؟ قال: يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله ثم رأت منك ما تكره قالت ما رأيت منك خيرا قط )) رواه البخاري.
 “ … Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya :“Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab :“Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari, no. 1053, dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, maka seorang istri harus selalu berdamai dengan suaminya dan membuatnya ridha, agar dia termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy)

Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus menghindari perselisihan dengan suaminya tanpa ada campur tangan dari keluarga atau rekannya. Sebab tidak jarang permasalahannya justru semakin meruncing karena banyak orang yang terlibat di dalamnya. Seorang laki-laki tentu mempunyai martabat dan kehormatan, sehingga dia tidak rela jika ada teman atau keluarga mertuanya mengetahui perselisihan yang muncul antara dirinya dan istrinya. Karena bisa-bisa perselisihan itu justru semakin meruncing karena keterlibatan mereka, atau menambah keretakan hubungan antara dirinya dan keluarga istrinya, atau antara keluarganya dan keluarga istrinya.
Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus mencerminkan kecintaan kepada suami dengan kata-kata yang baik dan lembut, agar dia memperoleh kedudukan di dalam surga dan termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

Maukah aku kabarkan kalian tentang wanita ahli surga?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Wanita yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: ‘Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku)’.” (HR. Ath-Thabarani, 19/140, dihasankan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’, no. 2604)

Demi terciptanya kesejahteraan abadi, masing-masing pihak harus mau mengalah melepaskan sebagian keinginannya terutama istri. Sebab kaum laki-laki lebih cenderung merasa ketepatan pendapatnya dan harus bisa memberi kepuasan kepada istrinya. Seorang istri yang berakal dan pandai harus mengalah dalam mempertahankan pendapatnya, sekalipun pendapatnya itu benar dan sulit dibantah. Jika suami sudah merasa tenang dan ada kesempatan yang tepat tatkala mereka sedang bercengkrama umpamanya, dia bisa berusaha menjelaskan pendapatnya. Pada saat seperti itu boleh jadi suami akan menerima pendapatnya dan ridha, sehingga segala urusan bisa berjalan mulus tanpa adanya perselisihan dan rintangna. Sebab keburukan tidak bisa dipadamkan dengan kejahatan, seperti api yang tidak bisa dipadamkan kecuali dengan menggunakan air.
Seorang istri muslimah harus lemah lembut dalam segala urusan, santun dan sabar, agar dirinya bisa menjadi harta simpanan bagi suami, sehingga suami merasa bahagia jika melihatnya, merasa tenang tatkala meninggalkannya, bersyukur kepada Allah atas anugerah ini, anugerah yang mampu menciptakan kebahagiaan di dalam rumah, sehingga bisa membantunya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Inilah uraian mengenai istri muslimah seperti yang dicanangkan Islam dengan syariat-syariatnya yang lurus dan adil, agar dia menjadi sendi rumah tangga.
Setiap wanita muslimah yang menghendaki kehidupan dunia dan akhirat, harus berpegang kepada manhaj yang dicanangkan Islam, melaksanakan kewajiban-kewajibannya, meletakkan tangannya di atas tangan suami, agar mereka berdua bisa bahu-membahu dalam menegakkan bangunan rumah tangga yang harmonis, yang terdiri dari pasangan suami istri yang shalih dan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga Islami, tegak berdiri di atas pilar-pilar cinta, saling memahami dan mempercayai, menghirup udara yang bersih di rumah itu, jauh dari penyakit dan problem, yang diisi dengan ibadah dan dzikir.
Dengan cara ini berarti dia telah memberikan andil dalam membangun umat Islam, dengan menghadirkan generasi yang ideal, tanpa ada benang yang kusut, mampu memanggul tanggung jawab dan mengibarkan bendera Islam.
  • Sabar

Dalam menjalani kehidupan, diperlukan kesabaran. Dan al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,
 “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)

فالصبر : حبس النفس عن الجزع والتسخط وحبس اللسان عن الشكوى وحبس الجوارح عن التشويش  وهو ثلاثة أنواع : صبر على طاعة الله وصبر عن معصية الله وصبر على امتحان الله
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, ” Sabar adalah menahan jiwa dari berkeluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh, serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (yang tidak lurus). Sabar ada 3 jenis, sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari melakukan maksiat, dan sabar tehadap ujian Allah.”(Madarijussalikin)

  • Semangat dan Usaha yang Keras

  • Tolong Menolong dalam Taat dan Takwa

رَحِمَ اللهُ رَجُـلاً، قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً، قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ.

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud)

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 2)

Pada masalah amalan kebaikan bentuk kerjasamanya berupa membantu pasangan anda untuk bisa melakukannya dan anda mudahkan urusannya, terlepas apakah urusan tersebut berkaitan dengan diri anda atau orang lain. Adapun dalam masalah keburukan bentuk kerjasamanya berupa anda memperingatkannya dan mencegahnya semampu anda diiringi dengan mengarahkannya agar meninggalkan keburukan tersebut. Begitulah, sehingga pasutri benar-benar bersatu padu secara harmonis dalam ta’awun yang diridhoi Dzat Yang Maha Tinggi.
Contoh saling tolong menolong antara suami istri dalam kebaikan
– Suami membangunkan istri shalat shubuh atau sebaliknya.
– Istri membenarkan bacaan Al Quran kepada suaminya atau sebaliknya.
– Suami menolong istrinya menyambung hubungan kekerabatan dengan ibunya, saudara-saudarinya atau sebaliknya.
– Istri mengingatkan suami untuk shalat berjamaah.
– Suami menjaga anak-anak agar istrinya tepat waktu shalat.
– Istri mendorong suami menuntut ilmu, ikut kajian agama Islam.
– Suami melarang istri untuk melakukan maksiat dan dosa atau sebaliknya.
– Istri menyetujui suami untuk berhenti kerja pada pekerjaan yang riba’ atau penuh penipuan, penuh kecurangan dll.
– Suami menyetujui istri untuk memakai pakaian yang syar’ie yang menutup aurat.

Jadikan nikah sebagai langkah baru untuk menguatkan dan meningkatkan ibadah, karena setelah menikah berarti seseorang punya teman setia yang bisa diajak untuk tolong menolong dalam kebaikan, peningkatan ibadah, saling mengingatkan, memberi nasehat dan yang lainnya dari amalan kebaikan.
Bisa jadi sebelum menikah seseorang sangat susah bangun malam tetapi setelah menikah dia rajin shalat malam karena dibangunkan oleh istrinya atau suaminya.

*Selesai*
549793_325228870931770_1183349928_n
539497_253612234760101_61705977_n62043_265026726951985_1660919981_n

538499_256814191106572_581733495_n
375823_253607554760569_932787198_n
156503_261919200596071_1744684357_n560353_268451556609502_38826350_n
______
Tambahan artikel dari:
http://muslim.or.id/aqidah/menguak-hakikat-ibadah.html
http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat.html
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/indahnya-sabar.html
http://alghoyami.wordpress.com/2011/01/29/harmoni-langkah-pasutri/
http://www.dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/121-kunci-sukses-berumahtangga-bag-3

Iklan

Zina Mematahkan Kunci Pintu Rizki Nikah Membuka Pintu Rizki

Salah 1 dari 10 Dosa Besar yaitu perbuatan zina, dosa zina dapat di rasakan langsung di Dunia jg salah satu sebab penutup pintu rezki.

Begitulah hasil taujih yang sy tela’ah   dari video ustadz Mansur yg kita kenal dengan gaya ceramahnya yg kontekstual menurut sy hmmm ……   Beliau menyampaikan dakwahnya sesuai dengan kondisi hari-hari kita dan penuh hikmah mudah dipahami dan mampu membuat diri tertunduk dan merenungi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Like like like…….

Berbicara zina sangat berhubungan erat dengan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan  non mahram yang belum ada ikatan pernikahan dan juga sudah menikah tapi suka main serong, melihat fenomena yang terjadi di zaman sekarang bukan lagi berbicara mendekati tapi berbuhubungan mesra diluar pernikahan hal yang sangat lazim bagi remaja dan anak muda masa kini . masya Allah, tulisan ini saya tujukan kepada diri saya pribadi dan pembaca blog saya.

Yang disebut zina itu apa yach?

Zina (bahasa Arab: الزنا, bahasa Ibrani: ניאוף -zanah) adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan).[1] Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan hubungan seksual, tapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia termasuk dikategorikan zina.

( dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Zina menurut pandangan agama Islam?

Di dalam Islam, pelaku perzinaan dibedakan menjadi dua, yaitu pezina muhshan dan ghayru muhshan. Pezina muhshan adalah pezina yang sudah memiliki pasangan sah (menikah), sedangkan pezina ghayru muhshan adalah pelaku yang belum pernah menikah dan tidak memiliki pasangan sah.

Berdasarkan hukum Islam, perzinaan termasuk salah satu dosa besar. Dalam agama Islam, aktivitas-aktivitas seksual oleh lelaki/perempuan yang telah menikah dengan lelaki/perempuan yang bukan suami/istri sahnya, termasuk perzinaan. Dalam Al-Quran, dikatakan bahwa semua orang Muslim percaya bahwa berzina adalah dosa besar dan dilarang oleh Allah.

Tentang perzinaan di dalam Al-Quran disebutkan di dalam ayat-ayat berikut; Al Israa’ 17:32, Al A’raaf 7:33, An Nuur 24:26. Dalam hukum Islam, zina akan dikenakan hukum rajam.

Hukumnya menurut agama Islam untuk para pezina adalah sebagai berikut:

  • Jika pelakunya sudah menikah melakukannya secara sukarela (tidak dipaksa, tidak diperkosa), mereka dicambuk 100 kali, kemudian dirajam, ini berdasarkan hukuman yang diterapkan Ali bin Abi Thalib. Mereka cukup dirajam tanpa didera dan ini lebih baik, sebagaimana hukum yang diterapkan oleh Muhammad, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar bin Khatthab.

– Jika pelakunya belum menikah, maka mereka didera (dicambuk) 100 kali. Kemudian diasingkan  selama setahun.

Hubungannya apa yah ZINA sama tertutupnya pintu rezeki ???

khan yang di Al QUR’AN yg ada perintah untuk jangan mendekati zina bukan JANGAN BERZINA jadi khan kalo berzina ga apa2 kan iya kan ??? lha wong yg dilarang adalah JANGAN MENDEKATI ZINA Sebab nggak ada ayat yg langsung bilang GA BOLEH BERZINA !!!

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Wa laa taqrabuzz zina.Innahuu kaana faahisyataw wa saa-a sabiilaa
nyang artinya
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32).
An nikaahu miftahur rizqi, nikah itu kuncinya rizki”. Begitulah perkataan beliau dengan nada yang tegas, mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad saw. Banyak keterangan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan bahwa nikah itu salah satu hikmah dan manfaatnya adalah membuka pintu rizki yg lebih lebar……

Hal ini sangat logis sekali karena sebelum menikah rezki yang kita terima adalah rizki yang diperuntukkan untuk diri kita seorang. Kita mendapatkan jatah rizki untuk diri kita, walaupun di dalamnya masih terkandung hak orang lain yang harus kita keluarkan. Namun setelah menikah, Alloh swt menitipkan rizki untuk anak dan istri kita yang otomatis membuat rizki kita bertambah banyak.

Namun begitu, tidak jarang di dunia ini kita temui orang yang hidupnya susah walaupun telah menikah. Begitu ia menikah malah kehilangan pekerjaan. Mungkin juga ada yang tidak mempunyai anak karena rizki berupa anak dicabut oleh Alloh. Ada lagi orang yang anak punya, pekerjaan punya, tetapi pernikahannya seumur jagung karena rizki yang berupa keluarga sakinah mawaddah warohmah dicabut oleh Alloh.

Mengapa bisa terjadi demikian..? Salah satu penyebab utamanya adalah sebelum menikah ia melakukan perbuatan zina. Lalu ada seseorang yang bertanya, ‘Ustadz, memangnya hubungannya apa, antara orang yang berbuat zina dengan tidak mendapatkan rizki..?’. Kemudian sang Ustadz menjelaskan :

  1. An nikaahu miftahur rizqi, nikah itu kuncinya rizki. Kemaluan laki-laki adalah kunci, sedangkan kemaluan wanita ibarat pintu. Apabila seseorang menggunakan kemaluannya bukan kepada istrinya, berarti ia sama dengan menggunakan kunci bukan pada pintunya. Yah, kalau mau kita coba, yang terjadi kemudian adalah kunci itu patah. Maka ketika orang melakukan zina, maka ia sesungguhnya telah mematahkan kunci rizkinya sendiri. Dan menjadi hak Alloh swt memberikan hukuman apa untuk pelaku zina. Seperti yang disebutkan di atas, ada orang yang tidak mendapatkan pekerjaan, ada orang yang tidak punya keturunan, ada yang tidak diberi ketenangan, ada juga orang yang semuanya punya kecuali satu, kesehatan.
  2. Orang yang telah melakukan perbuatan zina, diibaratkan dikalungkan dengan kalung yang namanya kesusahan. Hidupnya akan terus menerus mengalami kesusahan sampai ia mau bertobat.

‘Ustadz, kalau begitu mendekati zina tidak apa-apa dong. Pegangan tangan gpp dong..’ Tiba-tiba ada jamaah yang berprofesi sebagai pengusaha bertanya demikian. Ustadz itu menjawab, ‘Mas, mungkin kunci tidak akan patah karena kita gak berzina. Tetapi tidak menutup kemungkinan kan, kuncinya jadi terkikis sehingga susah untuk dipakai membuka pintu..?’ Beliau melanjutkan, ‘Analoginya begini. Anda punya tagihan setiap bulan 30 bon. Minggu pertama anda boncengin perempuan di mobil anda, lalu anda pegang-pegang tangannya maka bon anda berkurang jadi 25, 5 yang tidak tertagih. Minggu depan anda cium tuh perempuan yang bukan muhrim anda, itu 10 bon hilang. Minggu depannya lagi anda kemudian meningkatkan ilmu anda maka 20 bon hilang. Begitu anda ngamar, tetapi tidak berzina itu 25 bon hilang. Begitu anda berzina, toko anda yang tutup.’

Masya Alloh, begitu besar dampak negatif yang ditimbulkan dari perbuatan zina, bahkan sekedar mendekatinya saja.

#zina itu menutup pintu rezeki

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 68-70)

kalo diterjemahin dlm bahasa kayak kita2 nich sob kata Allah,….
Jangan sampe kita menduakan DIA, dan janganlah kita membunuh tanpa sebab yang dlm arti kata beberapa ulama sekarang mengartikannya sebagai aborsi itu kira, dan JANGAN BERZINA !!!
Apa akibatnya kalo berzina ???
kalo bahasa kita sob,…
BAHWA KITA AKAN DIKALUNGI OLEH KALUNG KESUSAHAN, masyaAllah,….
dan bahkan kata Allah AKU akan melipat gandakan (bukan main) siksaannya, lho apa kurang kerjaan ??? Apa ga kesiksa itu bathin ??? YA KESIKSA !!!
“AKU akan hinakan sehina2nya,……” MasyaAllah….

APA HUBUNGANNYA ZINA dengan SEMPITNYA RIZKI ???

jawaban yg pertama itu di atas, dan yg kedua
Annikahu miftahu Rizki, Nikah itu kuncinya Rejeki,….
Maaf maaf ya Sob,….
seumpama kemaluan laki2 kita anggap kunci, dan kemaluan perempuan itu pintunya (lubang kunci), annikahu miftahu rizki, nikah itu kuncinya rejeki, ya pake dach kunci pada yg bukan pintunya,…..
KIRA KIRA niech sob kebuka nggak tuch pintunya ??? InsyaAllah enggak khan !!!
Kontrak kotrek kotrak kotrek —- pataaaahhh…. kalo dipaksain ya pataaahhhh !!!
Siapa coba yg matahin ??? Ya kita yg “matahin”. KALO RIZKI UDAH PATAH WAH BERABEEEEEEEEEE !!!!
makanya bagi kita2 orang yg pernah berzina, kita udah hidup azza udah bagus walau penuh dengan kesusahan, penderitaan …. NAMANYA DIKASIH KESEMPATAN DR ALLAH UNTUK BERTAUBAT dan BERBUAT BAIK, NEBUS !!!

jangan bilang 40 tahun kita punya ibadah diangkat oleh Allah GA DITERIMA, lha coba sekali celup tuch 40 thn, coba kalo orang berzina semalem bisa 2 -3 ronde. Berzina khan kekuatan syaitan, kalo kita udah suami istri kadang2 ga dateng tuch syaitan, udah halal nich kayaknya ga ada yg laen dach,…. Bayangin dach,….

Lha kalo 1 malem 2 – 3 kali berarti sudah 80 thn atau 120 thn, sedangkan umur kita berapa ??? Masyaallah, naudzubillah mindzalik,…

coba buka Surah Thoha ayat 124-127,
“waman a’rodho ‘an dzikri”
(brg siapa yg berpaling dari peringatanKu) brg siapa berpaling dari Al-Qur’an ini, dia terima Al-Qur’an dia imani Al-Qur’an tp dia berpaling darinya, dia injak2 apa yg seharusnya ia amalkan hnya untuk menurutkan hawa nafsunya, maka kata Allah “fainna lahu ma’isyatan dhonka”
(dia akan diberikan suatu penghidupan yg sempit).

innalillahi wainna ilaihi roji’un….
diberikan hidup yg sempit, kalau hidup sdh terasa sempit bagaimanapun luasnya rumah tetap akan terasa sempit, kalau hidup sdh terasa sempit bagaimanapun banyaknya harta tetap terasa sumpek, kalau hidup ini sdh terasa sempit bagaimanapun luasnya pergaulan ngk ada tempat bagi kita bertanya melarikan persoalan kita, membagi rasa. siapa yg berpaling dari Qur’an, dia akan diberikan penghidupan yg sempit. Bukan dagangnya tdk untung bukan kerjanya tdk digaji, tp kesempitan hati lebih bahaya lho dari kesempitan ekonomi di dunia.

Kita masih untung,… kalo ALLAH hanya mengambil pekerjaan kita, rizki khan banyak, bettul nggak ???
Pekerjaan Rizki, anak rizki, keharmonisan keluarga rizki,
Sekarang kita jadi tahu, apa pasal ada orang yg berumah tangga bertahun2 belum mempunyai anak, jangan2 pernikahan mereka didahuli dgn berzina. Allah sebagai ‘ongkos’ perbuatan maksiat kita, ALLAH angkat nikmat kita punya anak, ALLAH cabut tuch rezeki punya momongan. Bisa jadi seumur2 dia ga bisa punya anak,…!!!

Annikahu miftahu Rizki, Nikah itu kuncinya Rejeki, rizki itu kita sepakati sebagai apa saja , maka anak kita sebagai rizki, dan jika ada sepasang manusia yang melangsungkan pernikahan dengan didahului berzina dulu dan ditakdirkan oleh ALLAH ga punya anak, jangan heran,..!!
Astagfirullah kejem buangeet yach !!!

iyaa,… tp nanti ada rahmatNYA, karena Allah khan MAHA PENGAMPUN ??? KEJAR DULU TUCH AMPUNAN ALLAH baru permohonan punya anak insyaAllah terbuka,….

Gawat lho sob, masalah anak ini berabe lho,mau nyari kemana ??? mau dikejar ke singapore, autralia, atau amerika ya ga bisa2, karena dia ga sadar Bahwa Rezeki dia untuk punya anak sudah ALLAH CABUT !!!

Apalagi itu rizki ???
Hubungan rumah tangga yg harmonis termasuk rizki nggak ??? itu termasuk Rizki.

ADA NGGAK ORANG YG BARU BERUMAH TANGGA BARU 6 BULAN TRUS PISAH ??? BUAANYAAAAAAAAAAKK,…… 2-3 BULAN CERAI,….BUANYAAAKKKKKKK !!!!!!!!!

Ditanya ama mertua, ditanya ama orang tua dan sodara kenapa kok pisah ???
Ach Gue mah ga Cocok !!!
enggak, loe bukan nggak cocok,…!!! Pacaran kelamaan, mondar mandir kesono kesini berdua2an dan begitu dinikahan, Allah bilang :
“CABUT !!! RIZKI BERUPA LANGGENGNYA RUMAH TANGGA CABUT !! AKU ENGGAK BERKENAN MEMBERIKAN UMUR RUMAH TANGGA YG PANJANG. CABUT !! CABUT !!!”

Disharmonis = rumah tangga yg enggak harmonis,….
bisa juga yg terjadi begitu khan ???
Bisa jdi dia berumah tangga yg terjadi ribuuuuuuuuuuuuuut mulu,…
tiba2 hadir dan membaca catatan ini, mendengar cerita ini dan menyadari bersama suami/istrinya,……
“PANTESAN WAE KITA RUMAH TANGGA KESANA KEMARI KOK RIBUT MULU”

Pekerjaan RIZKI BUKAN ???
Alhamdulillah rizki,….
terminologo kita biasa menyebutnya SIAL, terhadap orang2 yg megang apa2 Hangus, megang apa2 hangus, KHAWATIRLAH JANGAN2 ANAK2 GA DAPET, RUMAH TANGGA GA HARMONIS RIBUT MULU, TP HASIL USAHA JUGA GA DAPET, BISA JADI KERJAAN DAPET TP HASILNYA ABIIIIIIIIIISSS MULU GA ADA JUNTRUNGNYA.
Tp ujungnya masalah lagi,.. masalah lagi,… kalo dia ga sadar sebab nya, pangkalnya tuch pangkalnya Ga jadi2,…Temukan masalahnya, temukan penyebabnya…..

Kenapa di sebagian yg lain mukzizat/keajaiban itu hadir, dan dan kenapa disebagian yg lain rizki itu ditahan bahkan dicabut ama Allah,…
Bisa jadi ada 1 dr 10 dosa besar yg pernah kita lakukan,….
(tp ingat 10 dosa besar ini untuk mengkoreksi diri sendiri bukan orang lain, karena kalo untuk mendikte orang lain bisa berabe….

jadi kuncinya adalah JUJUR MARING AWAK E DEWE -JUJUR PADA DIRI SENDIRI)

10 Dosa Besar diantaranya :
1.Syirik, menduakan Allah , (hati2 bagi sobat yg suka punya jimat2)
2.Melalaikan shalat (ga tepat waktu dan ga berjamaah bg yg laki2)
3.Durhaka ama Orang tua
4.Berzina
5.Rizki yg Haram
6.Judi
7.Mabok
8.Mutusin silaturahmi
9.Ghibah
10.Kikir

Jika dari 10 dosa besar tersebut nggak ada yg kita sentuh 1 pun, bisa jadi apa yg kita alami adalah Ujian. Tapi kalo yg namanya Ujian,waktunya ga lama, sebagai contoh kita sekolah tuch satu tahun, ujiannya berapa hari ??? Paling lama 6 hari khan ???
Nach kalo kita nyentuh salah satu dr 10 dosa besar, berarti itu namanya hukuman alias azab. Jadi PR tuch buat kita,…..

Yuch sama koreksi diri, apakah kesusahan dan kesengsaraan yg hadir di hidup kita karena kesalahan kita sendiri ???

nach kalo ujian ga sampe bertahun2 (insyaAllah)….

Hati2 lho Sob,…
Kita punya Hutang Tahunan ga Lunas2 bisa jadi bukan ujian, atau sakit tahunan weh bahaya itu, khawatirnya itu sekali lagi bukan ujian, tp azab

PINTUNYA UJIAN adalah SABAR,…
PINTUNYA AZAB adalah TAUBAT, MINTA AMPUNAN ALLAH dulu baru sabar,….

COBA CEK AMA DIRI KITA DECH,….

KHAN ADA TUCH ORANG YG BERZINA AMA ISTRINYA,…

KAPAAN MASBRO ????

SEBELUM JADI ISTRi, ,……….

Kemudian dia menganggap pernikahan itu suatu pertaubatan,….

Bukaaaaaaaan sob,…. Bukaaaaaaaaan,…….

Perniakahan itu sunnah, pernikahan itu wajib hukumnya malah bagi yg mampu dan ga bisa menahan syahwat.

ARTINYA PERNIKAHAN ITU BUKAN PERTAUBATAN !!!

Jadi jangan anggap dengan menikah trus selesai tuch masalah, selesai itu urusan, wuuuueeeeeladalah,… weeeecchh enak banget tuch urusan, ENGGAK BEGITU,…… TAUBAAAAAAAAATTT DULUUUUU !!!

Janji Allah bagi bagi orang yg berdosa dan mau taubat
“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Jangankan 1, 2 kali kita zina, 100 kali zina kalo Kita bener taubat, kita bener2 dateng ama Allah minta ampunan NYA,insyaAllah diAmpunin. Tapi perkaranya adalah,…KITA GA BENER2 MINTA AMPUN AMA ALLAH, MINTA AMPUN KARENA GA ADA KESEMPATAN, PAS ADA KESEMPATAN ZINA ATAU MENDEKATI ZINA LAGI,PAS ADA DUIT BALIK LAGI,.. BALIK LAGI MAEN PEREMPUAN LAGE,….
BEGITU PUNYA KARIER BAIK DIKIT INI PEREMPUAN, SELINGKUH LAGI AMA LELAKI LAEN, DAN ITU EMANG NALURI MANUSIA YG ALLAH PASANGIN ITU

“Zuyyina linnasi hubbussahawati minannisa”
Bahwa manusia dihiasi rasa cinta kepada perempuan, jadi memang sudah secara fitrrah nya sebagai manusia,laki-laki senang kpd perempuan, sebagaimana perempuan juga senang kpd laki-laki. Dihiasi rasa cinta ini dalam kehidupan manusia, dan oleh karena adanya rasa cinta, berkembanglah segala macam persoalan.

GIMANA ALLAH MAU NGAMPUNIN KITA KALO TAUBATAN KITA MAEN2 ???
ASTAGFIRULLAH,…..
MAKANYA KALO KITA GA BISA BENER NGENDALI IN BISA REPOT KITA,….

Jadi kalo masalah kita yg konseling masalah JODOH, masalah rumah tangga yg ribut mulu, masalah kerjaan yg ga dapet2 atau masalah sering hadir, sekarang berubah menjadi ”
BISA NGGAK KITA DAPET AMPUNAN ALLAH ???”

Jadi,….
Jika kita belum berada di jalur ketaqwaan ya wajar aza masalah selalu mampir kedalam hidup kita, dan segera minta ampunan Allah, dan perbaiki shalat kita,…..!!! semoga tetap istiqomah dan bagi yg sudah melakukan kesalahan cepat2 bertobat dan semoga Allah mengampuni dosa2 kita Amiin…..

#refleksi_diri

*Inspirasi Wisatahati Yusuf Mansyur untuk Masbro dan So JOSH (Sobat JOmbloSampaiHalal)
bisa di dowload di :

Mapan dulu baru Nikah atau Nikah dulu lalu Mapan??

sy jadi penasaran banget deh, apa sih mapan menurut kalian ? Sehingga banyak yang m’nunda2 untuk melaksanakan ibadah dengan alasan pengen “mapan” dulu. Disuruh nikah, alasannya pengen mapan dulu, apalagi yang namanya laki-laki, banyak yang nggak mau nikah karena belum mapan. tapi ironisx pacaran jalan terus sampe tahunan…. bahkan ada jua yg ampe 6 tahun… pacaran kok ampe 6 tahun… itu mah kredit mobil…saat pelunasan tinggal barang rongsokan aja lg……….

Dan uniknya lg, ini karena doktrin dari para wanita, katanya sih…..
karena wanita ingin laki-laki yang mapan….. iya kh?
sebelum menikah agar pernikahannya lancar.
seperti dalam sebuah lagu kalau wanita
itu ingin dimengerti, wanita ingin beli perhiasan,
laki-laki harus ngerti, wanita ingin beli mobil,
laki-laki harus ngerti. (cewek matre aja kalee itu
mah). Lah nikah karena Allah, atau karena
mapan?

Susahnya lagi bukan hanya pasangan yang ingin
menikah saja yang memikirkan hal ini, tapi……..
orang tua mereka pun seolah tak mau
ketinggalan dalam masalah ini.

Yang paling menarik ketika orangtua justru berbicara
mempesimiskan dan jauh dari keyakinan rezeki
dalam kendali Allah, ‘ Belum mapan udah mau
nikah, emangnya mau makan batu ?? ‘ wow,
batunya nyangkol di hati tuh. hihihi

Yang jadi pertanyaan, Apakah
kemapanan berpengaruh besar pada pernikahan?
Ataukah sebaliknya, apakah pernikahan yang
berpengaruh besar pada kemapanan?
Jawabannya ada di gelas ale-ale yaa, gosok
dulu kali ya….. ????

Hikmah Dibalik Kesulitan

Rencana Allah itu Jauh Lebih Indah ukhti ..Kisah
dari kejadian nyata…………………..
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah
mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai
berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan
seorangpun yang bisa membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan
aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai
berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana
susahnya terlambat menikah.
Pada suatu hari datang seorang pemuda
meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia
berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi
aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia
meminta kepadaku photo copy KTP untuk
pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera
menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku
melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu
secepat mungkin.
Aku segera menemuinya.

Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya
kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP
itu benar?
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati
usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34
tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja. Usiamu sudah
lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatanmu untuk
memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku
ingin sekali menimang cucu.
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses
pinangan antara diriku dengan anaknya.
Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi
melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku,
supaya aku bisa menyiram kesedihan dan
kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis,
berlutut di depan Ka’bah. Aku memohon kepada
Allah supaya diberi jalan terbaik.
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang
perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang
sangat merdu. Aku mendengarnya lagi mengulang-
ulang ayat:
( ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻋﻈﻴﻤﺎ )
“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu
sangat besar”. (An Nisa’: 113)
Air mataku menetes dengan derasnya mendengar
lantunan ayat itu.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke
pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang
firman Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻲ )
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan
karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi
puas”. (Adh Dhuha: 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu
mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya
luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali
ke Cairo. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri
ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk
seorang pemuda.
Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di
ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang
temanku.
Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia
datang ke bandara? Dia menjawab bahwa ia lagi
menunggu kedatangan temannya yang kembali
dengan pesawat yang sama dengan yang aku
tumpangi.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu
datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di
kursi sebelah kanan ayahku tadi.
Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian,
lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya
tadi aku temui di bandara menelphonku. Langsung
saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang
tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada
diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah
temanku tersebut malam itu juga. Alasannya,
kebaikan itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat
kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.
Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap
tawaran suami temanku itu. Beliau
menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi
dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.
Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah
temanku itu.
Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi
sudah datang melamarku secara resmi. Dan hanya
satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami
betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan
kebahagiaan.
Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan
keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan
seorang suami yang betul-betul sesuai dengan
harapanku. Dia seorang yang sangat baik, penuh
cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang
subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang
sangat baik dan terhormat.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga
ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi
usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku untuk membawaku
memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang
sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta
kepadaku untuk cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata
bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan
pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah
jelas. Langsung saja ia mengucapkan “Selamat,
anda hamil!”
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat,
sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih
dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil
di usia yang sudah agak berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan
mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku
semua adalah nikmat dan karunia-Nya.
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya
kandunganku ini terlalu besar, dokter itu
menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah
sampai 36 tahun.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari
saatnya melahirkan.
Proses persalinan secara caesar berjalan dengan
lancar. Setelah aku sadar, dokter masuk ke
kamarku dengan senyuman mengambang di
wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin
anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan
karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis
kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku
sambut dengan beribu syukur.
Aku dikagetkan dengan pernyataannya: “Jadi
bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh
Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?
Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia
maksudkan?
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya
jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah
mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang
laki-laki dan 1 orang perempuan.
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang
anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan
ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung
anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan
hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas
menjalani masa-masa kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang
ayat Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻰ )
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan
karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi
puas”. (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
( ﻭَﺍﺻْﺒِﺮْ ﻟِﺤُﻜْﻢِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺑِﺄَﻋْﻴُﻨِﻨَﺎ )
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu,
karena sesungguhnya engkau berada dalam
pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan,
terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa
Allah tidak pernah dan tidak akan pernah
menelantarkanmu. Subhanallah….sungguh mengagumkan 🙂

#Ustadz_zulfi_akmal