Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses


 “Langkah-Langkah dalam Menjadi Istri Shalihah dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

  • Mengenal Ajaran Islam

  1. Mengenal Allah dan Tauhid. Dengan mengenal Allah dan Tauhid, kita mampu membedakan mana yang haqq dan yang bathil, amalan apa saja yang dapat mendekatkan kita pada Allah, mentaati perintah dan menjauhi segala larangan-Nya sebab tujuan diciptakan nya jinn dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Mengenal nama dan sifat-sifat Allah serta dzat Allaah secara khusus, bahwa hanya Dia lah yang menghidupkan dan mematikan, memberi rezeki, Raja segala Raja dan lain sebagainya. Mengimani rukun iman dari beriman kepada Allah hingga kepada takdir baik dan buruk. Agar hidup kita senantiasa selalu bertumpu hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Allah berfirman:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu (Adz Dzariyat : 56)

    Al-’Imad Ibnu Katsir mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.
    Beliau (Ibnu Katsir) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat : 56), “Makna ayat tersebut; sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”

  2. Konsep Ibadah yang Benar. Setelah mengetahui dan mengenal Allah dan Tauhid, kita harus belajar tentang konsep ibadah yang benar, yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), bukan menambah hal-hal baru yang dapat mengakibatkan ibadah kita tertolak.
    مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak berdasarkan urusan kami, maka amalan itu tertolak” (lihat hadits no 5 dalam Al Arba’in An Nawawiyyah).

  3. Konsep Pernikahan dalam Islam. Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo). Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar. Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.
  • Banyak Berdoa Kepada Allah

Yang namanya mengarungi bahtera rumah tangga, tentu tak selamanya akan berjalan mulus, ibarat bahtera yang nahkodanya adalah suami dan penumpangnya adalah keluarga, kadangkala harus menemui badai, angin yang kencang atau bahkan menabrak karam.
Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah. Ketika impian tak seindah kenyataan, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.
Kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul, yang mungkin bisa diistilahkan sebagai bumbu rumah tangga, bisa berpangkal dari banyak hal. Mungkin di antaranya sebagai berikut:

  1. Perbedaan karakter dasar.
  2. Perbedaan tingkat intelejensi, kadar intelektualitas dan wawasan berpikir.
  3. Perbedaan usia yang terlalu menyolok.
  4. Perbedaan latar belakang pengalaman, satus sosial dan lingkungan hidup.
  5. Perbedaan pemahaman dan prinsip hidup dan beragama.
  6. Kurangnya pengalaman interaksi sosial.
  7. Kesulitan ekonomi.
  8. Cacat dan kekurangan pisik ataupun mental yang baru diketahui belakangan.

Badai  rumah tangga seringkali tampil dalam wujud percekcokan antara suami istri. Kalau dibilang sebagai bumbu, mungkin lebih layak disebut bumbu yang terlalu pedas. Karena percekcokan antara dua insan yang seharusnya bersatu, yang seharusnya tenggelam dalam suasana tentram, penuh dengan kasih sayang, jelas berpengaruh amat besar terhadap kebahagiaan masing-masing pihak, bahkan berpengaruh pada penyelesaian tugas masing-masing dalam rumah tangga.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-’Ankabut: 2)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

 “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (Qs. Ali Imran: 142)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amatlah dekat.” (Qs. Al-Baqarah: 214)

Pertentangan yang kadang terjadi dalam kehidupan suami istri bukan sesuatu yang mesti menimbulkan rasa gentar dan takut. Bahkan jika dalam kehidupan suami istri tidak diwarnai pertentangan dan perselisihan, justru perlu dikaji dan dipelajari. Bagaimanapun juga pertentangan ini merupakan sesuatu yang alami dan pasti terjadi. Sebab kehidupan suami istri terdiri dari dua jenis manusia. Sementara setiap anak keturunan Adam tentu pernah melakukan kesalahan. Sebab kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.
Boleh jadi suami melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak istrinya atau dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai istri. Adakalanya istri juga melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak suami atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai suami. Dari sini kemudian muncul pertentangan yang memanas. Ini merupakan kejadian yang biasa muncul di setiap rumahtangga. Bahkan yang seperti ini juga terjadi dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seorang istri yang berakal dan pandai harus menyelaraskan aturan pada awal kehidupannya bersama sang suami sehingga masing-masing bisa saling mengenali lebih jauh sehingga apa yang disepakati keduanya bisa dilaksanakan dan apa yang tidak disukai bisa dihindari. Para suami dan istri dari kalangan salaf yang shalih pasti berbuat seperti itu pada awal kehidupan rumah tangga mereka, sehingga kita jarang mendengar kisah tentang perselisihan di antara mereka seperti yang seringkali kita dengar pada masa sekarang.
Wanita yang berakal tentu menghendaki uluran maaf dari suaminya atas kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu dia pun harus sudi memaafkan kesalahan-kesalahan suaminya. Sebab manusia tidak diciptakan dalam keadan terpelihara dari kesalahan. Seperti yang kita ketahui bersama, terlalau banyak mencela bisa melahirkan perselisihan. Kadang-kadang wanita suka mencela suaminya karena suatu perkara yang dalam pandangannya merupakan perkara besar. Boleh jadi celaannya termasuk celaan yang keras, sehingga justru menyeretnya kepada kesalahan yang jauh lebih besar dari hanya sekedar celaan terhadap suami. Akhirnya dari sini muncul suatu masalah yang besar, karena suami merasa tidak lagi membutuhkan dirinya, hanya karena berangkat dari perkara yang sebenarnya tidak seberapa berarti. Tentunya seorang suami mempunyai sisi-sisi yang terpuji dan juga mempunyai beberapa keburukan. Orang yang berhati-hati masih bisa tergelincir dan orang pandai pun masih mempunyai celah.
Maka dari itu seorang istri tidak boleh marah jika lidah suaminya terpeleset tatkala marah. Tetapi dia harus lapang dada dan tenggang rasa, menghadapi kesalahan dengan kebaikan. Jika istri bisa bersikap seperti ini, justru suaminya bisa menyadari sendiri kesalahannya dan mengetahui bahwa ternyata adalah wanita yang pandai dan lapang dada. Dengan begitu cinta suami kepada dirinya semakin bertambah dan ada saling pengertian di antara mereka.
Basyar bin Burd berkata di dalam syairnya tentang pergaulan,

Jika segala perkara engkau cela
tiada teman yang tiada engkau cela
hiduplah sendirian atau jalin hubungan dengan saudara
dia bisa berbuat dosa dan bisa juga menjauhinya
jika engkau tiada pernah meminum yang ternoda debu
engkau bisa kehausan saat oranglain terbiasa minuman itu
siapa yang engkau ridhai semua perangainya
dia terlalu mulia untuk kau cari celanya.

Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, seorang istri harus bisa mengakui kelebihan suami, tidak mengingkari kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadanya, sehingga dia tidak termasuk golongan wanita yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka, seraya bersabda:
((…ورأيت النار فلم أر منظرا كاليوم قط ورأيت أكثر أهلها النساء قالوا: بم يا رسول الله ؟ قال بكفرهن قيل أيكفرن بالله ؟ قال: يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله ثم رأت منك ما تكره قالت ما رأيت منك خيرا قط )) رواه البخاري.
 “ … Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya :“Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab :“Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari, no. 1053, dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, maka seorang istri harus selalu berdamai dengan suaminya dan membuatnya ridha, agar dia termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy)

Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus menghindari perselisihan dengan suaminya tanpa ada campur tangan dari keluarga atau rekannya. Sebab tidak jarang permasalahannya justru semakin meruncing karena banyak orang yang terlibat di dalamnya. Seorang laki-laki tentu mempunyai martabat dan kehormatan, sehingga dia tidak rela jika ada teman atau keluarga mertuanya mengetahui perselisihan yang muncul antara dirinya dan istrinya. Karena bisa-bisa perselisihan itu justru semakin meruncing karena keterlibatan mereka, atau menambah keretakan hubungan antara dirinya dan keluarga istrinya, atau antara keluarganya dan keluarga istrinya.
Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus mencerminkan kecintaan kepada suami dengan kata-kata yang baik dan lembut, agar dia memperoleh kedudukan di dalam surga dan termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

Maukah aku kabarkan kalian tentang wanita ahli surga?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Wanita yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: ‘Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku)’.” (HR. Ath-Thabarani, 19/140, dihasankan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’, no. 2604)

Demi terciptanya kesejahteraan abadi, masing-masing pihak harus mau mengalah melepaskan sebagian keinginannya terutama istri. Sebab kaum laki-laki lebih cenderung merasa ketepatan pendapatnya dan harus bisa memberi kepuasan kepada istrinya. Seorang istri yang berakal dan pandai harus mengalah dalam mempertahankan pendapatnya, sekalipun pendapatnya itu benar dan sulit dibantah. Jika suami sudah merasa tenang dan ada kesempatan yang tepat tatkala mereka sedang bercengkrama umpamanya, dia bisa berusaha menjelaskan pendapatnya. Pada saat seperti itu boleh jadi suami akan menerima pendapatnya dan ridha, sehingga segala urusan bisa berjalan mulus tanpa adanya perselisihan dan rintangna. Sebab keburukan tidak bisa dipadamkan dengan kejahatan, seperti api yang tidak bisa dipadamkan kecuali dengan menggunakan air.
Seorang istri muslimah harus lemah lembut dalam segala urusan, santun dan sabar, agar dirinya bisa menjadi harta simpanan bagi suami, sehingga suami merasa bahagia jika melihatnya, merasa tenang tatkala meninggalkannya, bersyukur kepada Allah atas anugerah ini, anugerah yang mampu menciptakan kebahagiaan di dalam rumah, sehingga bisa membantunya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Inilah uraian mengenai istri muslimah seperti yang dicanangkan Islam dengan syariat-syariatnya yang lurus dan adil, agar dia menjadi sendi rumah tangga.
Setiap wanita muslimah yang menghendaki kehidupan dunia dan akhirat, harus berpegang kepada manhaj yang dicanangkan Islam, melaksanakan kewajiban-kewajibannya, meletakkan tangannya di atas tangan suami, agar mereka berdua bisa bahu-membahu dalam menegakkan bangunan rumah tangga yang harmonis, yang terdiri dari pasangan suami istri yang shalih dan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga Islami, tegak berdiri di atas pilar-pilar cinta, saling memahami dan mempercayai, menghirup udara yang bersih di rumah itu, jauh dari penyakit dan problem, yang diisi dengan ibadah dan dzikir.
Dengan cara ini berarti dia telah memberikan andil dalam membangun umat Islam, dengan menghadirkan generasi yang ideal, tanpa ada benang yang kusut, mampu memanggul tanggung jawab dan mengibarkan bendera Islam.
  • Sabar

Dalam menjalani kehidupan, diperlukan kesabaran. Dan al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,
 “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)

فالصبر : حبس النفس عن الجزع والتسخط وحبس اللسان عن الشكوى وحبس الجوارح عن التشويش  وهو ثلاثة أنواع : صبر على طاعة الله وصبر عن معصية الله وصبر على امتحان الله
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, ” Sabar adalah menahan jiwa dari berkeluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh, serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (yang tidak lurus). Sabar ada 3 jenis, sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari melakukan maksiat, dan sabar tehadap ujian Allah.”(Madarijussalikin)

  • Semangat dan Usaha yang Keras

  • Tolong Menolong dalam Taat dan Takwa

رَحِمَ اللهُ رَجُـلاً، قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً، قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ.

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud)

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 2)

Pada masalah amalan kebaikan bentuk kerjasamanya berupa membantu pasangan anda untuk bisa melakukannya dan anda mudahkan urusannya, terlepas apakah urusan tersebut berkaitan dengan diri anda atau orang lain. Adapun dalam masalah keburukan bentuk kerjasamanya berupa anda memperingatkannya dan mencegahnya semampu anda diiringi dengan mengarahkannya agar meninggalkan keburukan tersebut. Begitulah, sehingga pasutri benar-benar bersatu padu secara harmonis dalam ta’awun yang diridhoi Dzat Yang Maha Tinggi.
Contoh saling tolong menolong antara suami istri dalam kebaikan
– Suami membangunkan istri shalat shubuh atau sebaliknya.
– Istri membenarkan bacaan Al Quran kepada suaminya atau sebaliknya.
– Suami menolong istrinya menyambung hubungan kekerabatan dengan ibunya, saudara-saudarinya atau sebaliknya.
– Istri mengingatkan suami untuk shalat berjamaah.
– Suami menjaga anak-anak agar istrinya tepat waktu shalat.
– Istri mendorong suami menuntut ilmu, ikut kajian agama Islam.
– Suami melarang istri untuk melakukan maksiat dan dosa atau sebaliknya.
– Istri menyetujui suami untuk berhenti kerja pada pekerjaan yang riba’ atau penuh penipuan, penuh kecurangan dll.
– Suami menyetujui istri untuk memakai pakaian yang syar’ie yang menutup aurat.

Jadikan nikah sebagai langkah baru untuk menguatkan dan meningkatkan ibadah, karena setelah menikah berarti seseorang punya teman setia yang bisa diajak untuk tolong menolong dalam kebaikan, peningkatan ibadah, saling mengingatkan, memberi nasehat dan yang lainnya dari amalan kebaikan.
Bisa jadi sebelum menikah seseorang sangat susah bangun malam tetapi setelah menikah dia rajin shalat malam karena dibangunkan oleh istrinya atau suaminya.

*Selesai*
549793_325228870931770_1183349928_n
539497_253612234760101_61705977_n62043_265026726951985_1660919981_n

538499_256814191106572_581733495_n
375823_253607554760569_932787198_n
156503_261919200596071_1744684357_n560353_268451556609502_38826350_n
______
Tambahan artikel dari:
http://muslim.or.id/aqidah/menguak-hakikat-ibadah.html
http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat.html
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/indahnya-sabar.html
http://alghoyami.wordpress.com/2011/01/29/harmoni-langkah-pasutri/
http://www.dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/121-kunci-sukses-berumahtangga-bag-3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s